Skip to content

Hukum di Indonesia saat ini, dapat dikatakan sedang mengalami malaise.

November 27, 2009

Dioperasikan Para Parasit dan Pemangsa

Malaise, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2005) diartikan sebagai keadaan lesu dan serba sulit (terutama di bidang perekonomian). Dalam pengertian lain, malaise juga berarti perasaan kurang sehat dan lesu, yang mendahului timbulnya keadaan sakit yang lebih gawat. Hukum di Indonesia saat ini, dapat dikatakan sedang mengalami malaise. Betapa tidak, penegakan hukum terlihat lesu, dan keadilan begitu sulit didapatkan. Di sisi lain, hukum di Indonesia juga sedang dalam keadaan tidak sehat, karena urusan penyelesaian perkara telah bersifat transaksional. Pengadilan menjadi tempat bertemunya para pembeli dan para penjual, serta makelar. Oleh karena itu, sangat wajar jika hasil jajak pendapat Kompas (17/3/2008) menyimpulkan bahwa sistem pengadilan di Indonesia tidak lagi dapat dipercaya.

Situasi ini seperti paradoks di tengah derasnya arus demokratisasi di Indonesia. Hukum, yang seharusnya menjadi “panglima” dalam cita-cita negara hukum, menjadi begitu tidak berdaya. Hukum bekerja tidak sebagaimana layaknya rule of law, tetapi tergantung diterapkan kepada siapa dan berada di tangan siapa. Bunyi hukum begitu gampang dijungkirbalikkan. Semisal, hukum begitu sulit ditegakkan untuk kasus BLBI, begitu pula dalam kasus penggelapan pajak PT Asian Agri. Apalagi terhadap Soeharto dan kroni-kroninya. Penyelesaian suatu perkara hukum tampak seperti sandiwara belaka. Hukum tidak bekerja sebagaimana adanya. Lalu, pertanyaannya, mengapa hukum tampak tidak berdaya?

Tertangkapnya jaksa Urip Tri Gunawan baru-baru ini, karena diduga menerima suap dari Artalyta Suryani (Ayin), memperkuat indikasi bahwa faktor mentalitas aparat penegak hukum menjadi penyumbang terbesar bagi ketidakberdayaan hukum saat ini. Tidak hanya di kejaksaan, praktik semacam ini juga terjadi di kehakiman, kepolisian, bahkan di KPK (Kompas, 17/03/2008). Aparat penegak hukum tidak hanya pasif menerima suap, tetapi juga aktif melakukan pemerasan. Hal ini bisa dilihat dalam kasus pemerasan yang dilakukan AKP Suparman (penyidik KPK) terhadap saksi Kasus PT Sandang, serta Andry Djemi Lumanauw (Panitera PN Jaksel) dan Herman Alossitandi (Hakim PN Jaksel) yang melakukan pemerasan terhadap saksi kasus Jamsostek (Kompas, 17/03/2008). Dengan demikian, tidak tertutup kemungkinan bahwa suap terhadap Jaksa Urip adalah buah dari pemerasan.

Sementara itu, profesi advokat cenderung telah beralih menjadi broker dan penghubung antara klien dan aparat penegak hukum belaka. Advokat aktif melakukan suap untuk kepentingan kliennya – seperti yang dilakukan Tengku Syaifuddin Popon (pengacara Abdullah Puteh) kepada Panitera Pengadilan Tinggi DKI Jakarta (Ramadhan Rizal dan M Sholeh). Kehebatan seorang advokat tidak ditentukan oleh keahliannya lagi, melainkan ditentukan oleh seberapa banyak relasi-relasinya dengan aparat penegak hukum, dan seberapa jauh kedekatannya dengan aparat penegak hukum tersebut.

Praktik-praktik semacam itulah yang menyebabkan hukum di Indonesia semakin parah. Hukum dirusak dan digerogoti oleh mereka yang berprofesi di bidang hukum itu sendiri. Mereka telah menjadi parasit sekaligus pemangsa. Parasit bagi sistem pengadilan dan pemangsa bagi pencari keadilan.

Aparat penegak hukum, termasuk advokat, adalah pekerjaan yang membutuhkan penguasaan terhadap pengetahuan yang khusus. Oleh karena itu ia disebut sebagai profesi. Tidak semua orang bisa melakukan pekerjaan semacam itu, hanya mereka yang telah menjalani pendidikan tertentu saja yang dapat menekuni profesi tersebut. Namun, dalam menjalani profesinya tersebut, seseorang tidak hanya dituntut untuk menguasai keahlian profesional yang terus dikembangkan, melainkan juga memegang teguh etika (gnosis). Inilah yang disebut dengan profesionalisme, yaitu penerapan kemampuan teknik tertentu yang diiringi dengan etika. Suatu profesi yang tidak diiringi dengan etika tertentu akan sangat gampang terperosok ke dalam praktik-praktik penyalahgunaan keahlian-keahlian yang dimiliki, misalnya untuk mencapai kepuasan pribadi belaka. Profesionalisme harus dijadikan pijakan dalam menjalankan suatu profesi.

Menurut Soetandyo Wignjosoebroto (2002: 318), konsep profesionalisme lahir dan berkembang untuk pertama kalinya di Eropa Barat, yaitu pada saat awal perkembangan industri di benua itu. Profesionalisme merupakan suatu kekuatan antitesis yang dianut sejumlah kelompok sosial yang berkeahlian, yang mencoba bertahan untuk menegakkan status dan kehormatan dirinya dalam masyarakat, dengan menyatakan bahwa “keahlian yang mereka kuasai bukanlah komoditas jasa yang hendak diperjualbelikan, melainkan suatu kebajikan yang hendak diabdikan (demi kesejahteraaan sesama dalam masyarakat dan demi kehormatan diri)” (Wignjosoebroto, 2002: 318).

Jadi, sangat jelas bahwa menekuni suatu profesi tertentu merupakan panggilan hidup untuk mengabdi. Menjalani profesi tertentu bukanlah untuk mencari imbalan yang akan mendegradasi mereka menjadi orang-orang upahan yang hina, melainkan menegakkan kehormatannya sendiri melalui pengamalan kemampuan dan keahliannya bagi kemaslahatan umum.

Oleh karena itu, seorang aparat penegak hukum, termasuk advokat, yang menjalani profesinya seharusnya menerapkan profesionalisme dengan menjalankan tugas untuk pengabdian dan memenuhi panggilan hidup dan bukan untuk mencari penghidupan. Oleh karena itu pula ia harus siap dan rela kehilangan kebebasan-kebebasan tertentu ketika memilih profesi tersebut. Melalui itulah profesionalismenya terjaga. Melalui profesionalisme lah ia dihormati dan disegani.

Terungkapnya sejumlah aparat penegak hukum yang menerima suap, melakukan suap, dan melakukan pemerasan, menunjukkan bahwa para aparat penegak hukum tersebut tidak menerapkan profesionalisme dalam menjalani profesinya. Bisa jadi, pemberitaan media massa selama ini adalah puncak gunung es bagi praktik penyuapan dan pemerasan yang terjadi di dunia hukum. Jika demikian, maka tidak heran mengapa hukum di Indonesia sedang mengalami malaise. Hukum dioperasikan oleh para parasit dan pemangsa.

um, sesuai dengen perkembangan zaman ya perlu asupan gizi, biar ampuh x, hehe

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: