Skip to content

TINJAUAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENCURIAN KARENA KLEPTOMANIA

November 27, 2009

ABSTRAK
TINJAUAN HUKUM PIDANA TERHADAP
PENCURIAN KARENA KLEPTOMANIA

Pencurian merupakan tindak pidana yang paling banyak dilakukan di Indonesia.
Seseorang dapat dinyatakan terbukti telah melakukan tindak pidana pencurian
apabila telah memenuhi unsur-unsur dalam pencurian dan dilakukan dengan
sengaja yaitu pencuri menghendaki dan mengetahui akan akibat dari tindakannya,
sedangkan seorang kleptomania melakukan pencurian bukan karena dia memang
memerlukan barang yang diambilnya atau bukan karena barang itu memang
memiliki nilai yang mahal. Tapi dia melakukan pencurian karena adanya
dorongan yang tidak bisa ditahannya. Hal ini jelas berbeda dengan seorang
pencuri biasa yang merasa khawatir kalau-kalau tindakannya diketahui orang lain,
maka seorang kleptomania sama sekali tidak memiliki kekhawatiran seperti itu
saat dia melakukan pencurian. Bagi diri seorang kleptomania, mencuri justru
merupakan sebuah tindakan yang menyenangkan bagi dirinya. Permasalahan
dalam penelitian penulisan skripsi ini Bagaimanakah perspektif pertanggung
jawaban pidana terhadap pelaku pencurian yang dilatar belakangi oleh penyakit
kleptomania? dan Apakah alasan penyidik memproses pelaku tindak pidana
pencurian karena kleptomania? Ruang lingkup permasalahan pada skripsi ini di
Kepolisian Kota Besar (POLTABES) Bandar Lampung.
Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini di lakukan dengan
pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris, sedangkan pengumpulan data
dilakukan melalui studi kepustakaan dan studi lapangan, yang kemudian dianalisis
dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan, diperoleh suatu
kesimpulan bahwa perspektif pertanggungjawaban hukum terhadap pelaku
pencurian karena kleptomania yaitu para penderita kleptomania dapat dikenakan
hukuman atas perbuatan pencurian yang telah dilakukannya karena
kemampuannya untuk bertanggung jawab tidak sepenuhnya hilang. Seorang
kleptomania dapat bertanggung jawab atas perbuatannya yang biasa dikenal
Benny Irawan
dengan pertanggungjawaban sebagian. Untuk melihat apakah perbuatannya
dilakukan dalam keadaan seseorang tersebut sedang sakit atau tidak harus ada
pernyataan dari dokter ahli jiwa. Apabila orang tersebut benar mempunyai
penyakit kleptomania maka aparat penegak hukum harus memberikan tindakan
kepada pelaku, tindakan yang dilakukan adalah memasukan pelaku ke rumah sakit
jiwa atau dilakukannya bimbingan psikiatri. Sedangkan alasan penyidik
kepolisian memproses pelaku tindak pidana pencurian karena kleptomania yaitu
setiap adanya aduan dari pihak pelapor atau pihak yang dirugikan, pihak
kepolisian harus memproses pelaku terlebih dahulu sesuai dengan prosedur
penyidikan. Apabila setelah diselidiki pelaku memang benar terbukti mengidap
penyakit kleptomania, pihak kepolisian akan mengeluarkan surat perintah
penghentian penyidikan (SP 3).
Penyidik kepolisian dalam menangani setiap kasus harus bertindak sesuai
prosedur yang ada, bila menemukan pelaku tindak pidana pencurian karena
kleptomania tidak langsung membebaskannya begitu saja tetapi harus diproses
terlebih dahulu apakah benar orang tersebut seorang kleptomania atau memang
pencuri biasa. Sehingga aparat penegak hukum tidak salah dalam mengambil
keputusan.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: